Yayasan Raudlatul Makfufin

Kesucian Al Quran

Sungguh rasional bila orang Indonesia tidak dapat membedakan antara bahasa Arab manusia dengan bahasa Arab Al-Quran yang sudah tersusun sejak sebelum orang Arab lahir.

Sejak Al-Quran turun pada empat belas abad yang lalu, manusia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima dan yang menolak. Dan sejak awal, Al-Quran telah menantang semua pemikir dan ahli bahasa Arab untuk membuat Al-Quran tandingan. Jika tidak mampu satu Quran, maka buatlah sepuluh surat, dan bila tidak mampu juga, maka buatlah satu surat saja. Ternyata, sejak turun Al-Quran hingga saat ini tak pernah ada yang berhasil membuat Al-Quran tandingan meski mereka mencurahkan segala upaya untuk melakukannya.

Setiapkali mereka mencoba maka yang terjadi hanyalah memperlihatkan kebodohan dan kehinaannya sendiri, padahal mereka adalah orang Arab yang ahli dan terkemuka seperti yang pernah dialami Musailimah Al Kadzdzab. Karena itu, bila saat ini ditemukan kembali kelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai kelompok intelektual atau kelompok studi Islam aktual atau lainnya, lalu mereka mencurahkan segala upaya untuk merendahkan Al Quran, maka
sesungguhnya mereka tidak lain ialah pelanjut kelompok terdahulu yang akan menjatuhkan dirinya sendiri di kemudian hari dan membuktikan bahwa mereka belum mengerti Al Quran.

Sungguh rasional bila orang Indonesia tidak dapat membedakan antara bahasa Arab manusia dengan bahasa Arab Al-Quran yang sudah tersusun sejak sebelum orang Arab lahir. Jika orang Arab yang menentang Al-Quran bukan karena tidak mengakui ketinggian bahasa Al-Quran, akan tetapi semata-mata karena terkuasai hawa nafsunya. Karenanya, orang Indonesia yang mengingkari Al Quran, bukan saja karena terkuasai hawa nafsu, akan tetapi juga karena tidak dapat membedakan mana bahasa Arab susunan manusia dan mana bahasa Arab yang diturunkan Allah kepada hamba pilihan-Nya.

Al-Quran diturunkan pada masa Bahasa Arab mencapai puncak kesusasteraannya. Namun demikian, para sastrawan dan penyair ketika itu tunduk kepada ketinggian bahasa Al-Quran. Seorang sastrawan dan penyair yang tiada duanya di kalangan Quraisy bernama al Walid bin al Mughirah mengakui dan merasakan ketinggian bahasa Al-Quran dan kedalaman maknanya.

Dari ibnu Abas ra bahwa al Walid bin al Mughirah datang kepada Nabi saw. “Maka beliau membacakan Al Quran kepadanya hingga hanyutlah qalbunya. Berita ini sampai kepada Abu Jahal. Maka dia mendatanginya dan berkata: ‘wahai Pamanku, bawahanmu sepakat mengumpulkan harta untukmu’. Dia berkata: ‘untuk apa?’ Ia berkata: ‘untuk diberikan padamu,
 karena kamu telah mendatangi Muhammad untuk menyampaikan tawaran yang dapat dia terima.’Dia berkata: orang Quraisy semua mengetahui bahwa aku adalah orang Quraisy yang terkaya’. Ia berkata: ‘kalau begitu, katakanlah satu kalimat yang dapat diketahui bawahanmu bahwa kamu mengingkari (Muhammad) dan membencinya’. Dia berkata: ‘apa yang harus kukatakan. Tak ada seorang pun diantaramu yang mengetahui syair, rajaz atau qasidah melebihi pengetahuanku. Demikian juga pengetahuan tentang syair dari jin. Demi Allah semua itu tidak menyerupai apa yang dia bacakan. Demi Allah sungguh pada apa yang dia (Muhammad) bacakan terdapat yang sangat manis dan menarik. Ia bagaikan (pohon) yang di atasnya penuh dengan buah-buahan dan akarnya tertancap ke dalam. Ia sangat tinggi tidak dapat dijangkau. Abu Jahal berkata: kamu akan dibenci rakyatmu hingga kamu mencacinya’. Dia berkata: ‘baiklah, beri aku kesempatan untuk berpikir. Setelah dia berpikir, maka berkata: ini adalah sihir yang sangat berpengaruh’.”

Maka turunlah ayat:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. (QS Al-Mudatsir […] : 11)

Jika kita melihat perjalanan sejarah, kita akan mengetahui bahwa semua yang mereka kemukakan bukan masalah baru. Walaupun redaksinya baru, namun isinya sama dengan yang dikemukakan oleh orang-orang munafik yang hidup pada zaman Rasulullah saw dan orang-orang kafir yang hidup pada zaman berikutnya.

Berikut adalah beberapa fakta tentang Al-Quran.
Al Quran adalah satu-satunya kitab suci yang memiliki bahasa yang sama meski pembacanya berbeda bahasa; memiliki aturan baca yang tersebar di seluruh dunia dan dipelajari serta diikuti umat di dunia; tak pernah berhenti dibaca oleh umat Islam selama dua puluh empat jam setiap hari; dan dipelihara oleh para penghapal yang tidak terhitung jumlahnya baik di dalam atau di luar negeri.

Al-Quran pun satu-satunya kitab yang tidak pernah mengalami perubahan bahasa kendati pun para pembacanya berbeda bahasa; tetap bertahan tidak pernah mengalami perubahan, baik bahasa ataupun susunan kalimat, meski tangan-tangan kotor telah berupaya untuk mengubah dan merusaknya; apabila dibacakan selalu berpengaruh bagi pendengarnya kendatipun sebagian pendengar tidak mengerti bahasanya; diakui keaslian bahasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

;