Hadist Ahad

Apakah anda pernah apa itu hadist ahad ?, apakah hadist ahad adalah hadist tentang hari minggu ? atau mungkin sebuah hadist tentang seseorang yang bernama ahad ?. Pengertian hadist ahad sendiri adalah sebuah hadist yang di riwayatkan oleh satu hingga dua orang saja yang di anggap tidak memenuhi syarat mutawarir. Dimana mutawarir ini diharuskan berjumlah empat orang.

Klasifikasi Hadist Ahad

  1. Hadist Masyhur
    Hadist ahad ini diriwayatkan oleh 3 orang atau lebih tetapi dianggap belum memenuhi persyaratan Mutawarir. Hadist masyhur ini juga dibedakan menjadi beberapa jenis hadist ahad. Sebenarnya orang yang meriwayatkan suatu hadist tersebut di perawi. Perawi boleh meriwayatkan suatu hadist hanya 3 dalam suatu generasi dalam hadist masyhur ini.
  1. Hadist Aziz
    Hadist yang diriwayatkan hanya oleh dua orang dalam setia generasi. Bahasa generasi ini dalam islam disebut sebagai Thabaqat.
  1. Hadist Gharib
    Hadist yang diriwayatkan hanya oleh seorang perawi.


Contoh hadist ahad

  1. Hadist tentang salah satu diterimanya Amal.
    “Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan sesungguhnya bagi masing-masing orang apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yangakan ia dapatkan atau kepada perempuan yang akan dia nikahi maka (hasil) hijrahnya adalah apa yang dia niatkan”. [Muttafaqun ‘alaih].

    Hadist ahad ini membahas bagaimana suatu amalan di dunia bisa diterima oleh AllaH SWT. Hadist ini salah satu jenis hadist Gharib karena tidak di riwayatkan tidak lain oleh Umar Bin Khatab. Hadist ini akhirnya terima oleh berbagai kalangan ulama hingga sekarang. Dari Yahya bin Sa’id Al Anshari akhirnya diriwayatkan kepada berbagai ratusan periwa.

  2. Hadist tentang cabang keimanan.
    “Iman itu tujuhpuluh cabang lebih, Yang paling tinggi adalah ucapan laailaha illallaah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan salah satu cabang iman”. (Imam Muslim)

    Hadist ini tentang cabang-cabang tingkatan suatu keimanan. Tingkatan ini telah diriwayatkan oleh hadist Imam Muslim diatas. Hadist Imam Muslim ini sendiri adalah hadist ahad Gharib. Dimana hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim itu sendiri. Dalam Hadist di atas dijelaskan bahwa tingkatan iman yang paling tinggi adalah dengan mengucapkan laailaha illallaah.

Syarat-syarat suatu rawi bisa menjadi suatu rawi yang sah menurut Imam syafi’i, adalah sebagai berikut.

  1. Berakal, maksudnya adalah hadist ini bisa di terima oleh akal kita dan tidak menentang apa yang ada dalam Al-Quran.
  2. Dhobit, maksudnya adalah dimana rawi tersebut memiliki inagtan dan hafalan yang sangat bagus.
  3. Langsung mendengar dari Rasulullah SAW itu sendiri.
  4. Tidak menyalahi atau menentang ulama hadist itu sendiri.

Berikut diatas adalah sebuah penjelasan mengenai hadist ahad yang perlu diketahui.

 

;