Penjelasan Hadits Mutawatir

Dalam ilmu agama Islam ada dua hal yang menjadi pedoman umat muslim, yakni al-qur’an dan hadits. Pedoman al-qur’an tidak bisa dipungkiri lagi kebenarannya karena memang datangnya langsung dari Allah dan merupakan firman-Nya. Berbeda halnya dengan hadits. Hadits sendiri dibagi menjadi banyak jenis. Salah satunya adalah hadits mutawatir.

Hadits mutawatir merupakan salah satu jenis hadits yang mana hadits jenis ini memiliki nilai kebenaran yang besar. Hal ini karena hadits jenis ini telah diriwayatkan oleh banyak perawi dan setiap perawi tersebut telah menyepakati bahwa hadits tersebut adalah shahis adanya. Sehingga hadits jenis mutawatir bisa dijadikan sebagai pegangan duntuk berdalil.

Contoh Hadits Mutawatir dan Ciri-cirinya

“Barang siapa berbohong atas namaku, maka pilihlah tempat duduk yang paling empuk dari api neraka” (HR. Bukhari & Muslim). Hadits tersebut masuk ke dalam kategori hadits mutawatir dan telah disahkan oleh banyak perawi sehingga bisa menjadi suatu pegangan dalam berpedoman atau berdalil.

Meskipun hadits mutawatir yang disepakati banyak perawi ini adalah shahih adanya, namun sebagai umat muslim, anda juga harus tahu jenis hadits lainnya yang juga shahih dan menerimanya sebagai pedoman atau pegangan dalam bertindak sesuai sunnah Rasul. Lantas bagaimana ciri dari hadits jenis mutawatir ini? berikut di bawah ini bisa anda simak beberapa cirinya :

  1. Memiliki jumlah orang banyak dalam hal sanadnya. Baik itu dari awal hingga akhir sanad. Adapun hadits yang jumlah dalam sanadnya hanya sebagian maka tidak bisa disebut sebagai hadits jenis mutawatir.
  2. Ada banyak orang yang meriwayatkannya. Salah satu ciri menonjol dari hadits jenis mutawatir ini adalah banyaknya orang atau perawi yang meriwayatkannya. Banyak di sini jumlahnya tidak menentu bergantung pada beberapa pendapat para ulama’. Namun menurut Al-Ishthikhari minimal banyaknya adalah 10 orang.
  3. Adanya kemustahilan dalam kesepatan berbohong. Dalam hal ini jika suatu hadits diriwayatkan oleh banyak perawi namun masih dicapai kesepakatan bohong maka hadits tersebut tidak bisa dikatakan sebagai hadits jenis mutawatir.
  4. Hadits diterima melalui panca indera. Maksud dari ciri yang satu ini bahwa hadits yang diriwayatkan tersebut berdasarkan apa yang telah ditangkap oleh panca indera perawi saat hadits tersebut diterima. Dan bukan berdasarkan feeling atau logika.

 

;