Hakikat Rizki

Rizki atau sering juga disebut rezeki, berasal dari kata rozaqo–yarzuku–rizqon, yang bermakna “memberi/ pemberian”. Sehingga makna dari rizki adalah segala sesuatu yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta`ala kepada hamba-hamba-Nya dan dimanfaatkan oleh hamba tersebut.

Dari pengertian di atas dapat difahami bahwa yang termasuk dalam ketagori rizki, tidak terbatas hanya pada besar kecilnya gaji dan pendapatan atau banyak tidaknya harta maupun uang yang tersimpan. Tetapi makna rizki lebih luas daripada itu. Kesehatan tubuh dan jiwa, udara yang kita hirup, air hujan yang turun, keluarga yang menyenangkan, kepandaian, terhindarnya dari kecelakaan atau musibah, dan lain sebagainya adalah bagian dari rizki Allah Subhanahu wa Ta`ala.

Termasuk juga turunnya hidayah Islam pada diri seorang hamba, pemahaman akan ilmu agama, terbukanya pintupintu amal sholih dan bahkan khusnul khotimah dan mati syahid juga merupakan bagian dari rizki yang tiada tara. Dan masih banyak lagi karunia Allah Subhanahu wa Ta`ala yang sangat luar biasa, yang dikaruniakan kepada hamba-hambaNya dan tidak mungkin terhitung.

Setelah kita memahami makna dari rizki, tentu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Ar-Roziq (Maha Pemberi Rizki). Semua makhluk pasti mendapatkan rizkinya. Entah dia manusia yang beriman atau kafir, kelompok jin yang taat atau jin syetan, semua binatang, para malaikat, tumbuhan dan semua makhluk-Nya yang Dia ciptakan. Hal ini menunjukkan asma dan sifat-Nya ArRohman (Maha Pengasih).

Rizki Allah Subhanahu wa Ta`ala pasti terus mengalir. Tidak ada satu makhluk-pun yang sanggup menghalangi berjalannya rizki pada seseorang bila Allah Subhanahu wa Ta`ala menghendaki itu terjadi pada seseorang. Begitu pula sebaliknya, tidak ada satu makhluk-pun yang sanggup memberikan rizki pada seseorang, bila Allah Subhanahu wa Ta`ala menghendaki hal itu tidak terjadi padanya. Kepastian datangnya rizki di dunia, seiring kepastian nyawa hadir pada diri seorang makhluk. Atau kata lainnya, tanda rizki dunia seseorang itu habis adalah hadirnya kematian padanya.

Memang ada empat perkara ketetapan Allah Subhanahu wa Ta`ala yang terjadi pada diri manusia, dimana tidak ada satu manusia-pun yang bisa merubah hal itu, yaitu rizki, ajal, amal dan celaka dimana manusia tidak ada yang bisa untuk memahaminya kecuali atas izin Allah Subhanahu wa Ta`ala. Empat perkara di atas adalah permasalahan ghoib yang tidak ada makhluk yang mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa Ta`ala.

Sementara itu, berkenaan dengan rizki, jodoh, amal serta kebahagiaan, manusia hanya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan berikhtiyar untuk mengusahakan sebab agar terpenuhinya segala pilihannya. Sedangkan hasil, kembalinya tetap kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta`ala. Manusia tidak akan bisa memastikan akan hidup selamanya walaupun dia berusaha semaksimal mungkin untuk memperpanjang usianya. Manusia tidak akan bisa menjamin akan miskin dan sengsara selamanya, kalau Allah Subhanahu wa Ta`ala mentakdirkan dia menjadi kaya atau bahagia di waktu tertentu, begitu pula sebaliknya.

;