Makna Hadits Fi’liyah Dengan Beberapa Contohnya

Seperti yang telah anda ketahui bahwa hadits menjadi salah satu landasan atau pedoman hidup umat Islam selain Al-Quran. Ada beberapa hal yang tidak dijabarkan secara jelas dalam Al-quran namun secara jelas diterangkan dalam hadits. Jenis hadits sendiri ada banyak. Ada hadits qauliyah, hadits taqririyah, dan satu lagi yakni hadits fi’liyah.

Dari beberapa jenis hadits yang ada salah satu jenis hadits yang menjadi pedoman kuat dalam melakukan amalan ibadah adalah hadits fi’liyah. Fi’liyah sendiri merupakan sikap atau perbuatan. Sehingga hadits jenis fi’liyah dapat diartikan sebagai jenis hadits yang didasarkan pada perbuatan atau tindak laku Rasulullah SAW sehingga menjadi pedoman dalam melakukan sunnahnya.

Contoh Hadits Fi’liyah dan Penjelasannya

Karena hadits fi’liyah adalah hadits yang didasarkan pada sikap atau perbuatan Rasul maka isi dari hadits tersebut tak lain merupakan cerminan amalan yang dilakukan oleh rasulullah. Dengan kata lain bahwa perbuatan atau tingkah laku tersebut bisa menjadi pedoman atau tuntunan cara melakukan suatu hal tertentu. Di bawah ini beberapa contoh haditsnya:

1. Hadits mengenai cara sholat dalam perjalanan.

Nabi SAW diatas tunggangannya, kemana saja tunggangnnya itu menghadap. (H.R Mutafaq ‘alaih, juga at-Turmudzi dan Ahmad Amir bin Rabi’ah). Hadits tersebut menjadi cerminan bahwa saat melakukan perjalanan, seorang muslim bisa melakukan sholat di atas kendaraan yang ia tumpangi tanpa harus menyesuaikan dengan arah kiblat. Hal ini karena keadaan yang memaksa.

2. Hadits mengenai tata cara sholat yang baik dan benar.

“Bershalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku bershalat”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Malik ibn Huwairits). Dalam hadits tersebut sudah jelas bahwa cara sholat yang benar adalah seperti apa yang dilakukan oleh Nabi dan bukan sahabat atau orang lainnya.

3. Hadits yang menjelaskan ritual puasa Nabi.

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no.1156). hadits tersebut menjelaskan bagaimana Nabi berpuasa dalam setiap tahunnya. Baik itu menjalankan puasa wajib Ramadhan maupun puasa sunnah di bulan Sya’ban.

Beberapa contoh hadits fi’liyah di atas hanyalah sebagian dari sekian banyaknya hadits yang ada yang mana menjelaskan mengenai perbuatan Rasulullah SAW. Semua hadits perbuatan Rasul tersebut tidak melulu menjelaskan mengenai hal yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Ada beberapa hadits yang juga menjelaskan mengenai amalan sunnah. Sehingga tidak harus dikerjakan oleh setiap muslim.

 

;