Niat

Niat merupakan hal yang penting dan mendasar dalam melakukan setiap pekerjaan. Dengan niat, semua pekerjaan yang Anda lakukan lebih jelas tujuan dan juga bisa menjadi amalan ibadah. Karena itu ada riwayat khusus atau hadits tentang niat baik mengenai keutamaan maupun hukum niat itu sendiri.

Tentu Anda sering mendengar slogan yang mengatakan bahwa “sesungguhnya segala sesuatu harus disertai dengan niat”. Artinya dalam menjalankan setiap pekerjaan baik itu pekerjaan ibadah maupun lainnya harus diawali dengan niat. Hampir setiap amal ibadah mahdhah harus disertai dengan niat seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya.

Bahkan niat atau keinginan yang kuat itu lebih utama dari pada perbuatan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang artinya “Niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya. Jadi, semisal Anda sudah berniat untuk berangkat jamaah ke masjid, namun ternyata hujan dan tidak, maka akan tetap memperoleh pahala daripada niat baik tersebut.

Terlebih lagi jika Anda sudah berniat dan kemudian melaksanakan amal tersebut, maka akan mendapat pahala jauh lebih besar. Sementara itu, misal Anda berniat untuk melakukan kejahatan seperti mencuri dan ternyata tidak jadi melaksanakannya, maka akan dicatat satu kebaikan. Hal itu didasarkan pada hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة، فان هم بها فعملها كتبها الله عنده سيئة واحدة

Artinya:”Dan apabila seseorang berniat melakukan suatu kejahatan lalu ia tidak melaksanakannya, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna, dan apabila ia berniat melakukan suatu kejahatan kemudian melaksanakannya pula, maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kejahatan.”

 

Setiap amal ibadah harus disertai dengan niat agar tidak sia-sia, termasuk pula shalat. Shalat merupakan ibadah yang sangat fatal bagi orang islam yang harus dijalankan setiap hari sebanyak lima waktu. Adapun salah satu rukunnya adalah niat, sehingga tidak sah shalat seorang tanpa disertai dengan niat.

Niat pada dasarnya bisa dilakukan di dalam hati, namun juga harus dilafalkan untuk mengingatkan serta menguatkan hati saat akan dan ketika melaksanakannya. Adapun waktu niat untuk shalat adalah tepat saat takbiratul ihram dan sebelum itu harus diucapkan secara lisan. Pelafalan niat dalam ibadah tersebut seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

Artinya:”Dari Anas r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw. mengucapkan Labbaika, aku sengaja melakukan umrah dan haji.”

Meskipun itu dalam hal ibadah haji, namun juga bisa diqiyaskan pada shalat dan ibadah lainnya. Hadits tentang niat di atas menjelaskan bahwa niat sebaiknya juga dilafalkan secara lisan maupun dalam hati. Itu artinya niat shalat harus dilafalkan seperti “Ushalli fardlal maghribi…….” Begitu pula seterusnya.

 

Hadits Niat

Sebelum melakukan pekerjaan, pastinya harus didahului dengan niat yang baik. Secara bahasa, niat yaitu al-qashdu yang berarti keinginan atau tujuan. Sedangkan, secara istilah yang dijelaskan oleh Malikiah, keinginan seseorang dalam hatinya untuk melakukan sesuatu. Ada hadits niat yang dapat Anda pelajari dan ambil makna yang dikandungnya.

Faedah Fikih dari Hadits Niat

Sudah sangat ma’ruf hadits mengenai niat yaitu hadits dari Umar bin Khottob, bahwasanya setiap amalah tergantung pada niatnya. Ada beberapa pelajaran fikih yang bisa di tarik secara ringkas dari hadits tersebut sebagaimana disebutkan oleh Syaikh As Sa’di ketika membahas hadits pertama dari kitab ‘Umdatul Ahkam.

Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Beberapa faedah fikih yang dapat ditarik:

  1. Tidak mungkin bila suatu amalan itu ada kecuali sudah didahului oleh niat. Jika ada amalan yang dilakukan tanpa niat, maka tidak disebut amalan seperti amalan dari orang yang tertidur dan gila akal. Sedangkan, orang yang memiliki akal tidaklah seperti itu, setiap beramal pasti memiliki niat.
  2. “Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”, maksud dari hadits niat ini yaitu setiap orang akan memperoleh pahala sesuai dengan kadar niatnya. Jika niatnya baik, maka akan diganjar dengan kebaikan. Sebaliknya, jika niatnya jelek, maka diganjar dengan kejelekan.
  3. Niat berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat ada di dalam hati. Niat tidak perlu dilafafazhkan untuk amalan apapun berdasarkan kata sepakat para ulama.
  4. Niat terdiri dari dua macam, niat amalan dan niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut. Niat amalan ada dua fungsi, membedakan ibadah dan non ibadah dan membedakan ibadah yang satu dengan yang lain. Sementara niat pada siapakah amalan itu ditujukan adalah untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat.
  5. Manusia diganjar bertingkat sesuai dengan tingkatan niatnya.
  6. Jika manusia dalam keadaan uzur untuk beramal, maka ia akan tetap diganjar. Karena, seandainya orang tersebut tidak ada uzur ataupun halangan, tentu saja ia akan beramal.
  7. Jika berbeda antara yang diucap dengan yang diniatkan dalam hati, maka yang jadi patokan adalah niatan di hati.
  8. Masalah niat pada masuk dalam setiap bab fikih, karena niat adalah syarat untuk setiap amalan.

 

;