Nikah Mut’ah

Apakah Anda mengetahui mengenai nikah mut’ah? Dalam hal ini mungkin belum banyak yang mengetahui arti dari nikah yang satu ini. Mut’ah sendiri memiliki arti, dimana seseorang lelaki yang memang diperbolehkan untuk bisa menikahi perempuannya dalam jangan waktu tertentu. Dalam hal ini mut’ah memang sudah diperbolehkan oleh Nabi SAW.

Untuk mut’ah sendiri, Nabi SAW memberikan izin untuk semua sahabatnya pada saat peperangan yang dilakukan terjadi, agar dapat melakukan mut’ah ini dengan perempuan yang memang ada di lokasi sekitar. Nabi SAW juga memberikan izinnya pada tahun yang bernama Fathu Makkah. Lalu bagaimana keutamaan yang dimiliki mut’ah ini? dan bagaimana hukum dalam Islam mengenai mut’ah ini?

Hukum melaksanakan Nikah Mut’ah

Memang nikah mut’ah ini sudah mendapatkan izin dan diperbolehkan dilakukan oleh Nabi SAW, namun tidak semua peperangan diperbolehkan untuk dilakukannya mut’ah. Para perang Khaibar ini merupakan salah satu perang, yang dilarang untuk melakukan mut’ah. Namun diperbolehkan kembali dilakukan, pada perang Hunain lalu kembali dilarangnya. Tentunya hal ini semakin membuat orang bertanya.

Hal ini juga yang membuat banyak kaum muslimin, mulai untuk mengharamkan untuk bisa melakukan mut’ah. Hingga saat ini maka, dilakukannya mut’ah sudah diharamkan hingga nantinya datang hari kiamat.  Hal ini bahkan sudah diperjelas, dengan perkataan Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah yaitu:

“Dilakukannya mut’ah merupakan hal yang haram, menurut kesepakatan yang dibuat ulama atau ijma kaum muslimin, kecuali memang sebagian dari pengikutnya memang syi’ah. Tidak ada sah menurut kaidah mereka atau untuk orang-orang syi’ah, untuk mengurus urusan tersebut. Bahkan Ali radhiallahu ‘anhu bahwa sudah mengatakan telah dihapuskannya mut’ah.”

Hadis lain yang juga mengatakan, bahwa mut’ah adalah haram yaitu oleh Sabrah ibnu Ma’bad al-Juhani radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

إِنِّي كُنْتُ قَدْ أَذَنْتُ لَكُمْ فِي الْاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيخل سَبِيْلَهُ وَلَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْئًا

Artinya: “Sungguh, aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan mut’ah dengan para perempuan. Sungguh, (kemudian) Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya sampai hari kiamat. Siapa di antara kalian memiliki istri yang dinikahi dengan cara mut’ah, hendaknya dia lepaskan dan jangan kalian ambil sedikit pun harta/pemberian yang telah kalian berikan kepada mereka.”

Hal ini juga semakin diperjelas dengan pernyataan, bahwa melakukan nikah mut’ah merupakan salah satu perbuatan yang zina. Bahkan pernikahan ini juga tidak memiliki perbedaan apapun dengan perzinahan lainnya yang pastinya sangat dibenci oleh Allah SWT. Jangan pernah melakukan pernikahan ini, jika memang ingin selalu mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Sudah jelas bukan bahwa memang mut’ah merupakan salah satu jenis pernikahan, yang memang diharamkan oleh Allah SWT. Dalam hal ini hindarilah berbagai hal yang dibenci oleh Allah terutama untuk melakukan pernikahan dengan jenis mut’ah ini.

 

;