Memposisikan Al-Quran Sebagai Titah Allah

Al-Quran diturunkan sebagai hudan (petujuk bagi manusia). Menfungsikan Al-Quran sebagai petunjuk berarti mensingkronkan antara penjelasan Al-Quran dengan realita aktivitas sehari-hari. Implikasinya dalam gaya hidup, menjadikan pilihan, selera dan bentuk kesukaan, kebiasaan maupun tradisi mestilah sesuai dengan apa yang tertera dalam Al-Quran. Itu artinya Al-Quran dijadikan pedoman dan petunjuk dalam hidup.
 
Apabila menemukan di dalam Al-Quran hal-hal yang menjadi kebiasaan, sementara Al-Quran melarangnya, serta merta harus berhenti, menjauhi, serta menanamkan keyakinan dalam hati kalau hal itu tidak baik bagi seorang muslim.
 
Begitupun sebalik jika ada hal-hal yang diperintahkan untuk dilaksanakan, serta merta seorang muslim berdaya upaya untuk merealisasikannya, meskipun pada saat itu dia tidak menyukai atau belum mampu melihat kebaikan apa yang dilarang tersebut. Namun sebagai mukmin mesti menanamkan keyakinan bahwa dalam setiap larangan ataupun perintah pasti mengandung kebaikan, walaupun terkadang memang akal manusia yang terbatas belum mampu mengungkap kebaikannya. Ketidak mampuan akal mengungkap kebaikan itu bukan berarti tidak ada kebaikan di dalamnya.
 
Perhatikan Firman Allah SWT:
 
“ … boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu …”(Q.S Al-Baqarah (2): 216)
 
Ini bukan menunjukkan fanatik dalam artian negatif, mengikuti membabi buta, ataupun tuduhan lainnya, seperti menyembah teks Al-Quran sehingga menjadikannya berhala baru. Semua itu adalah penilaian dari mereka yang tidak punya mata dan telinga, untuk memahami bahwa Al-Quran itu murni dari Allah Yang Maha Mengetahui, sedangkan manusia serba terbatas, tidak mesti otak yang terbatas mampu memahami apa yang dimaksud Allah SWT Yang Maha Berilmu.
 
Jadi inilah wujud pengagungan kepada Allah ‘Azza wa jalla, sebagai bentuk pengakuan seorang mukmin bahwa dirinya serba terbatas dan menyerah kepada pengetahuan Allah SWT.
 
Dengan menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk dengan artian sebagai guru yang hidup di tengah-tengah keseharian hidup kita. Selalu menjadikan Al-Quran sebagai tempat bertanya pada setiap persoalan yang di hadapi. Menjadikan Al-Quran sebagai penuntun di saat kita bingung harus melangkah kemana. Itulah makna menjadikan Al-Quran sebagai Pedoman dalam hidup seorang muslim.
 
Itulah makna beriman kepada Kitab Suci Al-Quran, meyakininya sebagai titah Allah kepada setiap hambaNya yang hidup diberbagai situasi dan kondisi.
 
Inilah ciri utama seorang mukmin sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam FirmanNya:
 
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Al-Nur (24): 51)
;