Percakapan Antara Rasulullah Dengan Jibril (Hadits)

Jika membahas mengenai hadits jibril, mungkin sebagaian besar dari anda ada yang tidak paham dengan maksudnya. Namun bagi anda yang sudah pernah tahu tentang hadits ini maka tentu anda juga tahu maksud dari hadits yang ditujukan untuk umat islam tersebut.

Hadits jibril sendiri merupakan hadits yang isinya adalah percakapan antara Rasulullah dan malaikat Jibril pada suatu waktu. Dalam hadits tersebut Malaikat Jibril menjelaskan ilmu mengenai tingkatan agama yang harus ditanamkan dalam hari setiap muslim. Dalam hadits tersebut sangat erat kaitannya dengan pengajaran iman dan ikhsan terhadap Allah SWT.

Inti Sari Hadits Jibril

Jika anda belum pernah mendengar mengenai hadits jibril, maka berikut ini bisa and abaca arti dari hadits yang mengandung pembelajaran berharga tentang islam yang patut diketahui oleh seluruh umat manusia. Hadits ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Umar ketika secara langsung menyaksikan Jibril bercakap-cakap dengan Rasulullah.

Dari Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, “Suatu hari ketika kami duduk-duduk di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Kemudian dia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika kamu mampu,“

kemudian dia berkata, “Engkau benar.“ Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.”

Dia berkata, “Engkau benar.” Kemudian dia berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.” Beliau menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu.” Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan terjadinya).”

Beliau menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya.” Dia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?“ Beliau menjawab, “Jika seorang budak melahirkan tuannya dan jika kamu melihat orang yang sebelumnya tidak beralas kaki dan tidak berpakaian, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunan,”

Orang itu pun pergi dan aku berdiam lama, kemudian Beliau bertanya, “Tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepadamu dengan maksud mengajarkan agamamu.” (HR. Muslim).

Hadits jibril di atas mengajarkan semua umat muslim akan tingkatan  ilmu agama seseorang baik itu mengenai jiwa keislamannya, iman, maupun ikhsan. Poin penting mengenai tingkatan agama seseorang yang dapat diambil dari hadits tersebut adalah seperti berikut ini :

  1. Tingkatan paling dasar adalah jiwa keislaman. Sebagai orang islam anda harus menjalankan rukun islam yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Dimulai dari mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, hingga menjalankan Haji jika anda mampu menjalankannya.
  2. Tingkatan selanjutnya adalah jiwa Iman. Sebagai seorang muslim anda harus memperkuat iman dalam hati anda dengan cara percaya terhadap Allah, malaikat, nabi, kitab Al-quran, dan qadha serta qadar yang telah ditetapkan oleh Allah. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang ada tersebut berarti anda sebagai seorang muslim belum bisa dikatakan sebagai orang yang beriman.
  3. Selain islam dan iman, Tingkatan paling tinggi dalam agama adalah ketika seseorang telah menjadi ikhsan. Ketika seseorang telah ikhsan maka setiap kali berbuat ibadah akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah.

 

;