Landasan-Landasan Syariat Islam

Syari’at Islam adalah wahyu yang diwahyukan Allah عزّوجلّ kepada Nabi-Nya Muhammad —‘alaihish shalatu wassalam— untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya yaitu Kitabullah yang mulia yang tidak didatangi kebatilan dari depan dan belakangnya yang turun dari Dzat yang Maha Hikmah lagi Maha Terpuji, dan sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم sebagai penafsir al-Qur’an, penjelas baginya, dan yang menunjukkan kepadanya. Al-Kitab dan as-Sunnah saling berkaitan sebagaimana kaitan antara Syahadatu An La llaha Illallah dan Syahadatu Anna Muhammadan Rasulullah.

Syari’at Islam dibangun di atas dua pokok yang agung dan dua fondasi yang asasi:

Pertama: Agar tidak disembah kecuali Allah semata yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak disembah bersama Dia yang selain-Nya siapa pun dia, tidak malaikat yang didekatkan dan tidak pula nabi yang diutus, apalagi yang selain keduanya, sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS al-Jinn [72]: 18)

Dan Allah عزّوجلّ berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadah-ku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS al-An’am [6]: 162-163)

Kedua: Hendaknya Allah عزّوجلّ tidak disembah kecuali dengan apa yang disyari’atkan Allah سبحانه و تعالى di dalam Kitab-Nya atau sunnah Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم sebagaimana yang difirmankan Allah عزّوجلّ:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7)

Dan Allah سبحانه و تعالى berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Rabb kamu itu adalah Rabb yang Esa.’ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS al-Kahfi [18]: 110)

Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i رحمه الله berkata ketika menafsirkan ayat ini: ‘”Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih‘ yaitu yang sesuai dengan syari’at Allah سبحانه و تعالى, ‘dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya‘ yaitu yang diniatkan semata kepada wajah Allah yang Esa tiada sekutu bagi-Nya; dua ini adalah dua rukun amal yang diterima, harus ikhlas karena Allah dan benar di atas syari’at Rasulullah صلى الله عليه وسلم.”

 

;