Tiada Mata Tak Hilang Cahaya

Mata Boleh Gelap, Telinga Boleh Sunyi, Jihad Santri Tak Pernah Padam


Santri yang Berjuang dengan Caranya Sendiri


Di sebuah pesantren di Sleman, lebih dari 150 santri menghafal Al-Qur’an tanpa suara. Tangan mereka membentuk isyarat huruf hijaiyah, satu demi satu. Di Serpong, Tangerang Selatan, santri lain meraba titik-titik timbul mushaf Braille selepas salat berjamaah.

Mereka adalah santri penyandang disabilitas. Menjelang Hari Santri, Kamis, 22 Oktober 2026, kisah mereka layak diangkat. Semangat juang santri ternyata tidak pernah padam, hanya berganti medan.


Warisan Resolusi Jihad


Hari Santri berakar pada 22 Oktober 1945. Setelah bermusyawarah dengan para ulama NU se-Jawa dan Madura di Surabaya, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad: membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban. Seruan itu menggerakkan santri dan rakyat hingga meletus pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Semangat Resolusi Jihad adalah semangat menolak tunduk pada keadaan. Dulu santri melawan penjajah dengan bambu runcing. Kini santri disabilitas melawan keterbatasan akses, stigma, dan anggapan bahwa mereka tak perlu belajar agama karena sudah dijaga Tuhan.


Pesantren yang Membuka Pintu


Sejumlah pesantren disabilitas sudah menjadi teladan.

Salah satunya berawal dari Yayasan Raudlatul Makfufin, yang dirintis RM Halim Sholeh, seorang guru tunanetra, pada 1983. Yayasan ini memprakarsai pencetakan Al-Qur’an Braille secara digital. Bersama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama, Raudlatul Makfufin turut menyusun dan mencetak Mushaf Standar Al-Qur’an Braille Indonesia, serta buku panduan membaca dan menulis Al-Qur’an Braille.

Raudlatul Makfufin juga mempelopori lahirnya pesantren disabilitas dengan mendirikan Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin pada 2016. Di pesantren ini, santri belajar membaca hingga menghafal Al-Qur’an, mendalami ilmu-ilmu keislaman, serta mengenal seni dan tradisi Islam. Melalui Sekolah Khusus Islam Terpadu YARFIN, yang juga berada di bawah naungan yayasan, mereka dibekali ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Contoh lain adalah Pesantren Darul Ashom di Sleman. Didirikan Ustaz Abu Kahfi pada 2019, pesantren ini khusus mendidik santri Tuli. Huruf hijaiyah diisyaratkan satu per satu sehingga santri bisa menghafal Al-Qur’an dengan bahasa isyarat. Santrinya menguasai tiga bahasa isyarat, yaitu Indonesia, Arab, dan internasional, dengan bimbingan para hafiz dan lulusan Pendidikan Luar Biasa. Isyarat huruf hijaiyah yang mereka pakai bersanad hingga Thaif, Arab Saudi.

Di Bandung, Ma’had Sam’an Darushudur membimbing santri tunanetra menghafal Al-Qur’an dengan memadukan mushaf Braille dan metode talaqqi. Kemenag juga mencatat pesantren khusus disabilitas di Kudus, Semarang, Lampung, dan Yogyakarta.


Perjuangan yang Belum Selesai


Jalan santri disabilitas masih terjal. Jumlah pesantren disabilitas, atau pesantren yang siap menerima santri disabilitas, masih sedikit. Guru yang mampu mengajar Al-Qur’an Braille atau bahasa isyarat juga terbatas, sementara mushaf Braille mahal dan distribusinya belum merata. Data yang dipaparkan di Kemenag pada 2021 mencatat, dari 47.516 peserta didik berkebutuhan khusus, baru 1.089 yang terakomodasi di madrasah inklusif.

Stigma pun masih ada. Kemenag mengakui banyak santri disabilitas dirundung dan dianggap berbeda, sehingga menegaskan larangan kekerasan dan diskriminasi terhadap santri difabel. Kemenag juga menyediakan mushaf Braille, mushaf bahasa isyarat, dan beasiswa bagi santri disabilitas.


Teladan dari Para Tokoh


Sejarah Islam mencatat banyak ulama besar yang hidup dengan disabilitas. Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat Nabi yang tunanetra, dipercaya menjadi muazin dan beberapa kali mewakili Nabi memimpin Madinah. Atha’ bin Abi Rabah, mufti Makkah dan guru Imam Abu Hanifah, berjalan pincang dan kehilangan penglihatan di akhir hayatnya. Imam Qatadah, ahli tafsir dan hadis generasi tabi’in, tunanetra sejak lahir. Di masa modern, Syekh Abdul Aziz bin Baz menjadi Mufti Agung Arab Saudi meski tunanetra sejak muda. Syekh Ahmad Az-Zayyat dari Mesir, yang buta total sekitar usia 40, pernah mengajar di Universitas Islam Madinah dan menjadi muara sanad qira’at para guru Al-Qur’an di negerinya.

Indonesia pun punya teladannya. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengidap glaukoma sejak 1985 dengan penglihatan yang terus menurun. Meski begitu, ia memimpin PBNU selama tiga periode dan menjadi Presiden ke-4 RI. Ada pula RM Halim Sholeh, pendiri Raudlatul Makfufin dan pelopor digitalisasi Al-Qur’an Braille sejak 1996, serta Kayla Nur Syahwa, hafizah tunanetra juara Hafiz Indonesia 2018 yang menggagas pesantren tahfizh tunanetra putri. Kisah mereka menegaskan bahwa disabilitas tidak pernah menjadi penghalang untuk berilmu, memimpin, dan berkhidmah bagi umat serta bangsa.


Menyalakan Api Perjuangan


Kiprah para tokoh itu menunjukkan bahwa pesantren disabilitas sedang menyiapkan generasi penerusnya. Para santri 1945 tidak menunggu senjata lengkap untuk berjuang. Santri disabilitas hari ini juga tidak menunggu dunia sempurna untuk belajar. Hari Santri adalah momentum meneruskan api itu. Pesantren bisa membuka pintu bagi santri difabel. Masyarakat bisa mewakafkan mushaf Braille, menjadi relawan pendamping, atau mengubah cara pandang: santri disabilitas adalah sesama penuntut ilmu, bukan objek belas kasihan.

Tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, akan semakin bermakna jika tak ada santri yang tertinggal. Santri yang membaca dengan jari, menghafal dengan isyarat, dan melangkah dengan kursi roda berdiri dalam barisan yang sama untuk menegakkan agama dan menjaga tanah air.

 

Selamat Hari Santri 2026. Perkasa santrinya, jayalah bangsanya!