Romantisme Tunanetra dan Radio
Ketika Dunia Berhenti di Ujung Mata
Hampir seluruh informasi dirancang untuk mata. Koran dicetak untuk dibaca, spanduk direntang untuk dilihat, pengumuman ditempel di papan kelurahan dengan asumsi setiap orang yang lewat akan menoleh dan mengejanya. Televisi menaruh running text, portal berita menebalkan judul, bahkan harga cabai ditulis pada karton kecil di pasar.
Bagi tunanetra, semua itu lenyap begitu saja. Bukan karena ia tidak ingin tahu, melainkan karena pintu masuknya tidak disediakan. Ia tenggelam di tengah banjir informasi, tetapi tak setetes pun sampai ke tangannya. Inilah kemiskinan yang paling sunyi: kemiskinan akses. Kehilangan penglihatan kerap dipahami sebagai kehilangan pemandangan. Padahal yang jauh lebih menyakitkan adalah kehilangan informasi, terputusnya seseorang dari percakapan besar di sekelilingnya.
Radio, Pintu yang Tak Menuntut Mata
Di titik itulah radio datang, sebagai keberpihakan. Radio tidak pernah meminta siapa pun melihat; ia hanya meminta telinga, dan telinga dimiliki tunanetra secara utuh. Cukup putar tuas, dengarkan desis pencarian gelombang, lalu dunia masuk ke dalam ruangan.
Inilah alasan hubungan tunanetra dan radio layak disebut romantisme. Radio satu-satunya media yang setara sejak semula, tanpa perlu dimodifikasi dan tanpa label “ramah disabilitas”. Media lain harus dibujuk agar inklusif: buku dialihkan ke Braille, video diberi deskripsi audio, aplikasi dipasangi pembaca layar. Radio lahir sudah dalam keadaan dapat diakses. Kabar banjir, pemadaman listrik, hasil pertandingan, semuanya tiba lewat suara. Radio mengembalikan hak untuk mengetahui pada waktu yang sama dengan orang lain.
Sekolah yang Tak Punya Bangunan
Radio perlahan berubah menjadi ruang kelas tanpa gedung, tanpa biaya, dan tak pernah menolak siapa pun yang ingin belajar. Dari radio, tunanetra belajar bahasa asing lewat siaran mancanegara, mengenal kota yang tak akan pernah dilihatnya, memahami haknya lewat diskusi hukum, dan mendalami agamanya lewat ceramah, dan mengetahui betapa kaya dan luasnya bumi Indonesia.
Keunggulannya sering diremehkan: radio tidak menyodorkan gambar jadi, sehingga pendengar bebas membangunnya sendiri. Sandiwara radio adalah contoh paling jujur. Derap kuda, pintu berderit, hujan di atap seng, mencekamnya pertempuran, semuanya hanya efek suara. Namun di kepala pendengar tunanetra, semua itu tumbuh menjadi dunia lengkap.
Dalam urusan membangun dunia dari suara, tunanetra bukan pihak yang tertinggal, melainkan yang paling terlatih. Sepanjang hidupnya ia menyusun realitas dari bunyi langkah, gema ruangan, dan jarak suara. Radio berbicara dalam bahasa ibu yang sudah lama ia kuasai.
Dari Pendengar Menjadi Pemilik Suara
Babak terpenting terjadi ketika tunanetra mulai duduk di kursi penyiar. Contohnya datang dari Semarang. Komunitas Sahabat Mata, yang terbentuk pada 1 Mei 2008 atas prakarsa Basuki, seorang yang kehilangan penglihatan pada 2002, kini mengelola Radio Sama FM lewat streaming daring dan aplikasi Android. Di sana tunanetra bukan narasumber undangan, melainkan pengelola tetap dan pemilik jam siar.
Dari Tangerang Selatan, Yayasan Raudlatul Makfufin bermoto “tiada mata tak hilang cahaya”, penerbit Al-Qur’an Braille dan pengasuh pesantren tunanetra, melanjutkan tradisi itu lewat Podcast Taman Tunanetra asuhan Diah Rahmawati. Isinya beragam: jejak Al-Qur’an Braille di Indonesia, kisah Ketua Umum Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia, hingga episode Hari Ibu tentang orang tua tunanetra yang mengasuh anak-anak istimewa. Yayasan yang sama menaungi Podcast Dunia Tunanetra yang dipandu langsung oleh santri tunanetra.
Keduanya menegaskan: radio menilai seseorang dari kualitas suara, kecepatan berpikir, dan kekayaan diksi, bukan dari kemampuan melihat. Perpindahan peran ini soal kepemilikan narasi. Bertahun-tahun tunanetra hanya diberitakan; ketika ia memegang mikrofon, ia berhenti menjadi objek dan mulai menjadi subjek.
Hari Radio dan Kesetaraan yang Belum Selesai
Setiap 11 September, Indonesia memperingati Hari Radio Nasional, menandai berdirinya Radio Republik Indonesia pada 1945. Peringatan itu biasanya dibingkai sebagai perjuangan kemerdekaan. Ada bingkai lain yang layak disandingkan: radio juga kemerdekaan bagi mereka yang tak dapat melihat, untuk tahu, untuk belajar, dan akhirnya untuk bersuara.
Romantisme ini tidak boleh berhenti sebagai kenangan hangat tetapi harus terus dikembangkan. Pertama, budaya audio harus dirawat: perangkat penerima yang murah dan adaptif, serta aplikasi streaming dan podcast yang terbaca oleh pembaca layar. Kedua, radio komunitas dan studio audio yang dikelola tunanetra perlu pendanaan, pelatihan, dan legalitas siaran, bukan sekadar tepuk tangan. Ketiga, prinsip radio sebaiknya ditiru media lain: bila sebuah kanal dapat dinikmati tanpa mata, ia melayani lebih banyak orang sekaligus.
Aksesibilitas bukan fasilitas tambahan setelah semuanya dibangun, melainkan cara berpikir sejak awal. Selama masih ada suara dan seseorang yang bersedia mendengarkan, tunanetra tidak akan pernah kehilangan dunia.
Selamat Hari Radio. Dirgahayu Radio Republik Indonesia. Bersama suara Anda, kami retas dunia tanpa melihatnya.