Sabar Bukan Pasrah: Menumbuhkan Kekuatan Jiwa Lewat Tafsir Mafatih Al-Ghaib

“Hanyalah orang-orang yang bersabar yang dipenuhi pahala mereka tanpa batas”
(QS. Az-Zumar: 10)
Sahabat.. tidak semua yang kita inginkan Allah wujudkan. Tidak pula semua yang kita temui adalah hal-hal yang menyenangkan hati kita. Melalui ujian, Allah hendak menguji dan mengundang kita lebih dekat pada-Nya. Melalui kesabaran, Allah mengajarkan kita untuk kuat karena orang yang kuat—sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw—adalah yang mampu menahan amarahnya.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang pandai bergulat (menang bertarung), melainkan orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Di dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 10 Allah bahkan menjanjikan pahala yang tak terhingga bagi orang-orang penyabar. Apakah mudah memupuk kesabaran? Tentu saja tidak. Saat seseorang marah, tepat di situ pulalah letak ujian kesabaran kita diuji. Mampukah kita lulus melewatinya? Atau sebaliknya, kita menjadi korban dari rasa amarah yang melanda.
Imam Fakhruddin Ar-Razi, pengarang Tafsir Mafatih Al-Ghaib, merumuskan hakikat kesabaran dengan menguraikan Al-Baqarah ayat 45, 153, dan 155.
SABAR SEBAGAI MEDIA PERTOLONGAN ALLAH
Di dalam surat Al-Baqarah 153 Allah SWT. berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Melalui ayat ini, Allah menegaskan bahwa kesabaran adalah metode pertolongan yang Allah berikan bagi hamba-hambanya. Dengan presisi, Allah menjadikan sabar sebagai penolong yang disandingkan dengan ibadah sholat. Sabar untuk apa? Kita akan membahas jenis-jenis sabar di bagian berikutnya.
Kemudian, apa sejatinya kesabaran itu? Di sini Imam Ar-Razi mendefinisikan esensi sabar ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:
قَهْرُ النَّفْسِ عَلَى احْتِمَالِ الْمَكَارِهِ فِي ذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَوْطِينُهَا عَلَى تَحَمُّلِ الْمَشَاقِّ وَتَجَنُّبِ الْجَزَعِ
“Menundukkan jiwa dengan paksa untuk menanggung hal-hal yang tidak disukai untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, serta membiasakan jiwa untuk memikul kesulitan dan menghindari sikap berkeluh kesah.”
Kita dapat melihat bahwa kesabaran meniscayakan adanya kekuatan diri untuk menundukkan jiwa saat menemui hal-hal yang tak menyenangkan, memantik api amarah, maupun sabar dalam menghadapi sisi jiwa yang menginginkan banyak hal.
TIGA DIMENSI KESABARAN
Menurut Imam Ar-Razi, kesabaran terbagi menjadi tiga. Pertama adalah kesabaran tubuh, yaitu ketahanan fisik dalam menanggung beban tugas fisik yang berat, mencakup ibadah dan kerja keras duniawi. Kesabaran fisik juga bersifat pasif seperti menahan rasa sakit, pukulan, atau derita fisik demi agama.
Dimensi kedua sabar adalah yang bersifat jiwa atau psikis. Dalam hal ini, jiwa dituntut untuk menahan diri dari tuntutan syahwat dan dorongan amarah. Saat jiwa bersabar di hadapan keinginan nafsu perut dan kemaluan, akhlak mulia yang terbentuk disebut dengan al-iffah (العفة), yaitu kehormatan diri. Di sisi lain, bila kesabaran dilakukan dalam menahan nafsu amarah, akhlak mulia yang terbangun adalah al-hilm (الحلم), yaitu kesantuan.
Adapun dimensi kesabaran yang ketiga adalah kemapuan diri dalam menanggung musibah atau peristiwa kemalangan yang datang dari luar diri. Dalam hal ini, sifat sabar dikontraskan dari al-jaza’u (الجزع), yaitu berkeluh kesah.
SABAR SEBAGAI OBAT DAN PINTU KEIKHLASAN
Menurut Ar-Razi, kesabaran adalah obat ruhani. Jiwa yang dilatih untuk bersabar menjadi semakin kuat dalam menghadapi permasalahan yang datang melanda, dalam menghadapi diri sendiri, serta dalam melakukan ibadah-ibadah yang seringkali terasa berat bagi jiwa yang belum terbiasa.
Kesabaran juga menjadi titik awal keikhlasan. Melalui sabar, orang-orang yang beriman menjaga jarak dirinya dari terikat dengan pangkat, harta, pujian, dan segala macam perhiasan dunia, sehingga ketaatan menjadi semakin murni karena Allah SWT.
SUMBER:
Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatih Al-Ghaib