DISABILITAS DALAM SUDUT PANDANG ISLAM (PART 1)

                Difabel atau disabilitas merupakan kata serapan yang berasal dari kata berbahasa Inggris Disability. Kata disability itu sendiri, sebagaimana yang didefinisikan dalam kamus Cambridge bermakna ‘an illness, injury or condition that makes it difficult for someone to do the things that other people do ‘, yaitu suatu penyakit, luka, ataupun kondisi yang menyulitkan seseorang untuk melakukan hal – hal yang dilakukan oleh orang-orang. Meskipun pada umumnya sebagian masyarakat Indonesia sendiri masih menggunakan istilah kecacatan, pada tahun 2007 istilah tersebut telah resmi diganti dengan istilah disabilitas.

Islam berpandangan bahwa setiap manusia diciptakan sama. Mereka dilahirkan dengan suci tanpa membawa bercak atau bahkan secuil kotoran apapun ketika dilahirkan oleh orang tua mereka di dunia ini. Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALAM telah menyatakan hal tersebut dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ;

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ..

“Tidaklah setiap anak yang terlahir, melainkan dilahirkan secara fitrah (suci)…” )HR. Bukhari)

Tatkala hadits ini diutarakan oleh Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALAM, Abu Hurairah berkata: “bacalah oleh kalian ayat al Qur’an:

فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ (30)

“fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus” (QS. Ar-Ruum: 30).

Terkait ini, Imam Fakhruddin Ar-Razy memberikan tanggapan di dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib bahwa yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah ke-Esaan Allah SUBHANAHU WATA’ALA, bahwa sesungguhnya seluruh manusia, yang terlahir dari Nabi Adam dan Siti Hawa, ketika ditanya oleh Allah SUBHANAHU WATA’ALA “ Apakah kalian bersaksi aku sebagai Tuhan-Mu?”, mereka semua menjawab “ya, kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami”. Oleh karena itu, tidak ada yang membedakan antara kaum disabilitas dan masyarakat pada umumnya, bahwa mereka pada hakikatnya telah mengakui ke-Esaan Allah SUBHANAHU WATA’ALA, dan terlahir dengan suci dalam iman tauhid kepada Allah. Dengan demikian, manusia seluruhnya telah memiliki bekal dan potensi yang sama untuk beriman dan beribadah kepada Allah.

Sesungguhnya yang paling berharga di sisi Allah SUBHANAHU WATA’ALA adalah nilai dan kualitas taqwanya. Allah SUBHANAHU WATA’ALA telah menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى )الحج : 37)

Daging – daging unta dan darahnya itu sekali – kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”. (QS. Al-Hajj; 37)

Imam Al-Baidhawi sendiri memberikan tafsiran untuk ayat ini dan berkata “Manusia dapat mencapai keridhaan Allah SUBHANAHU WATA’ALA melalui ketaqwaan hati mereka yang membuat mereka mengagungkan Allah, dekat kepada-Nya, dan melakukan segala amal perbuatan dengan ikhlas karena-Nya”. Oleh karena itu, kualitas taqwa menjadi kunci utama agar seseorang dapat mencapai ridha-Nya. Allah SUBHANAHU WATA’ALA tidak menilai seseorang dari rupa bagus atau buruknya, tidak pula menilai dari kesempurnaan fisik mereka atupun kurangnya, bahkan Allah SUBHANAHU WATA’ALA tidak melihat hamba-Nya dari kuantitas harta yang mereka miliki. Satu – satunya poin yang membedakan kualitas dan nilai kebaikan seorang hamba di sisi Allah SUBHANAHU WATA’ALA adalah karena taqwa mereka. Dalam hal ini, kaum disabilitas maupun non-disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh keridhaan Allah SUBHANAHU WATA’ALA yang semestinya menjadi tujuan utama kehidupan kita. Kekurangan yang dimiliki kaum disabilitas tidaklah menurunkan penilaian Allah SUBHANAHU WATA’ALA. Bahkan, bukan tidak mungkin bahwa kekurangan mereka apabila membuat mereka dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SUBHANAHU WATA’ALA dan meningkatkan kualitas ibadah mereka, hal tersebut dapat menjadikan mereka lebih mulia di sisiNya. Dan sebaliknya, bagi mereka yang diberikan kesempurnaan fisik dan mental, namun tidak dapat mensyukurinya atau bahkan dengan karunia tersebut menjauhkan mereka dari ibadah dan taqwa kepada Allah, hal tersebut hanya akan menjadikan mereka sebagi makhluk yang hina dan rendah di hadapan Allah SUBHANAHU WATA’ALA. Naudzubillah.(Rizal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *